Ulasan Buku: "Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya" Rusdi Mathari, Rekomendasi Bacaan Anak Muda.

Data Buku


Judul : Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, Kisah Sufi dari Madura

Penulis : Rusdi Mathari

Penerbit : Buku Mojok

Tahun Terbit : Cetakan ke-25, Agustus 2025

Tebal : xvii + 226 halaman

ISBN : 978-602-1318-40-9


Tulisan ini adalah hasil bedah buku pada program "Diskusi Sastra" oleh Komunitas Seni Bunga Padi Official.


"Masalahnya, Cak Dlahom bukan hanya telentang, tapi juga telanjang. Telanjang bulat. Dan itulah yang memantik kemarahan jemaah."

Kutipan dari sub-bab Bersedekah Pada Nyamuk ini bukan sekadar narasi eksibisionisme fisik, melainkan metafora telak tentang kejujuran spiritual. Di dunia hari ini, di mana agama sering kali hanya menjadi jubah estetika dan aksesori media sosial, Cak Dlahom hadir untuk menelanjangi kepalsuan kita. Buku yang berangkat dari tulisan berseri di Mojok.co ini telah mengetuk batin jutaan pembaca, membuktikan bahwa Rusdi Mathari tidak sedang mendongeng, ia sedang membedah borok religiositas kita yang sering kali berhenti pada kulit luar.

Secara struktural, buku ini membenturkan paradigma masyarakat kampung yang diwakili oleh Mat Piti, Pak RT, dan Pak Lurah dengan "kegilaan" sublim Cak Dlahom. Dalam perspektif Syariat, kita sering terjebak pada hitung-hitungan pahala dan dosa yang mekanis, sebuah transaksionalitas antara hamba dan Tuhan. Namun, melalui kacamata Sufistik, Cak Dlahom mengajak kita melampaui itu.

Beragama bukan sekadar soal halal dan haram, melainkan tentang rasa dan kedalaman. Cak Dlahom mengajarkan bahwa beribadah tanpa keikhlasan batin ibarat raga tanpa nyawa. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan dangkal, pemikiran ini menjadi oase yang mengajak kita berhenti sejenak untuk tafakur.

Cak Dlahom hadir sebagai antitesis dari kehidupan kita hari ini yang serba terukur oleh "etalase". Di zaman di mana kesalehan sering kali dikonversi menjadi konten dan kekhusyukan diukur dari seberapa estetik sudut pengambilan gambar untuk diunggah, tokoh sufi Madura ini justru memilih untuk "telanjang". Ia menampar wajah modernitas kita yang sibuk memoles topeng religiositas namun membiarkan batinnya kerontang.

Kita kini hidup di era di mana orang lebih takut kehilangan sinyal daripada kehilangan koneksi dengan Sang Khalik. Kita lebih fasih mendebat hukum fiqih di kolom komentar daripada mempraktikkan kasih sayang di dunia nyata. Rusdi Mathari menyentil hobi kolektif kita, merasa paling benar. Kita sering bertindak seolah memegang kunci surga, sementara Cak Dlahom dengan jenaka mengingatkan bahwa untuk sekadar memiliki "kebodohan" saja kita belum memenuhi syarat.

Buku ini menjadi cermin retak bagi kita yang gemar menghakimi iman orang lain berdasarkan atribut lahiriah. Di saat masyarakat semakin gemar memproduksi kebencian atas nama pembelaan terhadap Tuhan, Cak Dlahom menunjukkan bahwa membela Tuhan bisa dimulai dari hal remeh.

Ada 30 kisah yang siap mencabik-cabik zona nyaman spiritual kita. Setiap babnya merupakan adaptasi cerdas dari khazanah klasik dan tokoh inspiratif mulai dari Sirah Nabawiyah hingga pemikiran Emha Ainun Nadjib serta Syaikh Waltoni Ibrahim. Keunikannya terletak pada kemampuan menyederhanakan filsafat berat menjadi obrolan pinggir jalan yang renyah namun menghujam. Ia membuktikan bahwa ilmu Tuhan itu luas, tidak hanya terkurung dalam teks kaku, tapi juga berdenyut dalam setiap tarikan napas kehidupan.

Apakah mahasiswa dan anak muda wajib membacanya?

Buku ini adalah referensi yang sangat direkomendasikan bagi mahasiswa dan anak muda, terutama bagi mereka yang ingin meneliti unsur keagamaan dalam sastra.

Bagi akademisi muda, buku ini menawarkan studi kasus tentang bagaimana nilai-nilai teologis dapat dideseminasikan melalui narasi fiksi populer tanpa kehilangan bobot filosofisnya. Bagi mahasiswa yang sedang mencari identitas spiritual di tengah hiruk-pikuk dunia, kisah Cak Dlahom memberikan perspektif baru bahwa menjadi religius tidak harus kaku, dan menjadi taat bermula dari keberanian untuk mengakui bahwa kita sebenarnya "bodoh saja tak punya."

Ulasan ini mungkin hadir sangat terlambat, bertahun-tahun setelah buku ini pertama kali menggetarkan jagat literasi. Namun, kebenaran dan hikmah tidak mengenal kedaluwarsa. Justru di saat dunia semakin riuh dengan klaim kebenaran sepihak, pesan-pesan dari Madura ini terasa semakin relevan.

Semoga ulasan yang terlambat ini justru menjadi pemantik semangat baru bagi kita untuk menjamah kembali lembar demi lembarnya. Sebab, lebih baik terlambat membaca daripada selamanya merasa pintar, padahal untuk mengakui kebodohan saja kita belum mampu.

Karena kita menyelami warisan tulisannya, tidak ada salahnya untuk kita panjatkan doa atas kepulangan beliau tahun 2018, semoga kebaikan menyertainya, Allahummaghfir lahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu, amin.

..

IW

Comments

Popular Posts