BALUKART STUDIO
Oleh : Ramadhanil Putra
Baluka adalah istilah minang yang apabila di indonesia kan akan menjadi belukar. Belukar sendiri sering di sandingkan dengan semak, semak Belukar. Maka jelas bahwa Baluka adalah sama dengan Belukar, tapi apakah Balukart sama dengan Belukar? Tentu hal itu adalah sesuatu yang lain, sebab definisi Balukart sendiri haruslah ditemukan dan di tangkap oleh penikmat, pengunjung dan pelaku di Balukart itu sendiri. Lalu, kini dalam sudut pandang yang sempit setelah berkunjung dan mencoba menyatu dengan Balukart itu. Bahwa tempat itu adalah sebuah telur yang tengah dierami untuk di tetaskan. Nanti setelah sesuatu dari dalam telur ini mencuat keluar akan langsung terbang hingga kepak sayapnya tak lagi terlihat. Tersisa lah cangkang dari telur itu yang nantinya akan jadi bahan baku sebuah karya fenomenal berupa momentum, monumen dan manifesto dari perjalanan sang kreator.
Lalu siapa sangka kreator itu? Ialah seorang perupa kawakan yang disebut seorang spionase yang padahal ia adalah seorang minang tulen yang berpegang teguh pada kemisteriusan adat dalam lekuk garis dan lengkung wadah.
Balukart sendiri adalah respon, sang kreator menyatakan bahwa hidup adalah sebuah respon. Saya sependapat dengan ini, sebab memang disini yang perlu kita lakukan adalah merespon apa yang ada disini. Misalnya serumpun bambu kuning yang tumbuh di belakang lingkar meja kopi yang letaknya tidak statis atau berpindah sebab respon dari yang ada disini. Selain itu, apalagi yang kita lakukan di hidup ini yang bukan respon? Makan misalnya adalah respon dari rasa lapar. Berlari adalah respon dari rasa ketergesaan. Berkarya adalah respon dari alam ide yang subur tumbuh bunga-bunga warna-warni.
Lalu, Balukart sendiri adalah respon dari apa?
Balukart adalah respon dari pencarian sang kreator yang telah mencari selama puluhan tahun, apa yang dicarinya? ialah ketenangan, lalu dimana dan dari mana ketenangan didapatkannya?
Tentu bukan dari sebutir ekstasi, sebotol miras atau sebatang lisong, tapi ketenangan diambilnya dari gerak gerik yang tidak simultan diantara derit bambu, kicau kenari dan debur air pada parit kecil.
Bila kau sempat bertandang ke Balukart maka akan kau dapati setumpuk kanvas, kaca dan akrilik. Pada kanvas itu akan kau temukan sepasang geliga yang tengah beradu begitu sengit, atau kau akan melihat bagaimana Adityawarman menahkodai kapal Pamalaya menuju ranah Minang. Kemudian ketika terlena oleh pemandangan itu kau terkejut mendengar derai kaca yang disebabkan hantaman karih sampano ganjo irih. Dalam keterkejutan yang maha dasyat itu, sesuatu benda kenyal akan membelai tengkukmu, ialah tentakel Squidward yang meminta bantuan darimu sebab kegagalannya dalam berkarya. Squidy menggiring tanganmu untuk membelah keheningan dalam keterpanaan itu menjadi berbelah-belah, ratusan bahkan ribuan kisah epic yang selama ini kau bayangkan dalam renungan malammu. Kini kepingan imaji itu ada di hadapanmu saling bersautan, bertautan bahkan saling mengikat agar tak lepas, seperti setiap helai daun yang membangun istana megah Tampuo. Kau akan tercekat dan jatuh tersungkur menemukan harta tak benda, sebuah ide.
Balukart telah menyemak, tak butuh di bersihkan apalagi kau rambah dengan ide gila soal kebijakan, aturan dan kelicinan birokrasi. Jika ada sesuatu yang perlu kau dapati di Balukart adalah sebuah kesenangan mendalam saat kau terpekur dalam diam memandang semua ketidakmungkinan yang kau hadapi secara bersamaan.
Lebih dari itu, Balukart adalah taman bermain seorang anak yang tengah melumur lumpur di lengannya, menyusun batu menjadi menara atau berlarian menangkap kupu-kupu. Tapi kesenangan Balukart adalah sebuah pengalaman eksotik yang hanya bisa ditemukan jika aku, kau dan kita semua bergumul diantara ide.
Maka, berkunjunglah ke Balukart!!!!
"Buatlah karya sederhana yang disukai banyak orang" -Ve Mestoria.


Comments
Post a Comment